Seperti Nabi Sulaiman Alaihissalam

5:31 PM



Bismillahirrohmanirrohiim.

Assalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh.  Bagaimana kabar sahabat? Semoga senantiasa medapat berkah dan nikmat yang tak terhingga. ^^

Himpunan Mahasiswa Manajemen Pendidikan UNJ baru saja mengesahkan kepengurusan baru masa bakti 2014-2015, yang diketuai oleh Achmad Faisal dari MP 2012 A. Nah, bertepatan dengan itu ingin rasanya membahas tentang amanah. Dalam tulisan ini, akan diangkat sedikit kisah tentang Nabi Sulaiman alaihissalam, yang dikaruniai ilmu yang luas dan kebijaksanaan yang tinggi.

Kita semua pasti sudah tahu tentang kisah Nabi Sulaiman Alaihissalam yang bertemu jin Iffrit, tentang beliau yang menanyai kabar burung hud-hud, tentang beliau yang menakukan kerajaan yang dipimpin seorang Ratu yang cantik, tentang istananya yang lantainya terbuat dari kaca bening dan di bawahnya dialiri air.
Kita juga tahu bahwa Nabi Sulaiman Alaihissalam dikaruniakan ilmu dan kebijaksanaan. Salah satu cerita yang terkenal adalah tentang Nabi Sulaiman berbicara dengan semut ketika beliau dan tentaranya tengah dalam ekspedisi. Pada tulisan ini akan diceritakan tentang Nabi Sulaiman dengan semut itu.

Kisah 1

Suatu hari rombongan besar Nabi Sulaiman hendak menuju lembah Asgalan, dan rombongan itu terdiri dari Nabi Sulaiman dan umatnya, malaikat, jin serta binatang-binatang. Ditengah perjalanan, beliau menyuruh rombongannya berhenti. Nabi Sulaiman mendengar sesuatu, dan itu adalah suara dari Raja Semut.

"Hai semut-semut, masuklah kalian ke dalam sarang agar selamat dan tidak terinjak oleh rombongan Nabi Sulaiman," ucap Raja Semut.

Nabi Sulaiman tersenyum mendengar suara semut yang ketakutan itu. Beliau menyeru pada rombongannya,

"Berhentilah sejenak, kita beri waktu kepada makhluk Allah untuk menyelamatkan diri," ucap Nabi Sulaiman.

"Wahai Nabiyullah, mengapa kita tiba-tiba berhenti di tengah jalan," tanya salah satu rombongan.
 
"Di depan ada lembah semut yang di dalamnya terdapat jutaan semut, mereka akan kusuruh untuk berlindung agar tidak terinjak oleh rombongan kita," jawab Nabi Sulaiman.
Ketika kaum semut itu tengah sibuk menyelamatkan diri, Nabi Sulaiman menyuruh kepada rombongannya untuk terus bersyukur kepada Allah Ta’ala.

Setelah beberapa saat berhenti, Nabi Sulaiman dan rombongannya kembali meneruskan perjalanan. Ketika melintasi lembah semut itu, Nabi Sulaiman dan rombongannya mendapatkan pujian dari Raja Semut. Kaum semut bersyukur karena sarangnya tidak rusak oleh rombongan Nabi Sulaiman.

"Kami takjub kepada Nabi Sulaiman yang mengerti bahasa binatang, sehingga tidak ada satupun yang terbunuh diantara kami," kata Raja Semut.
Kisah ini merupak cuplikan dari ayat Al Qur'an surat An-Naml ayat 18 yang artinya,
 
"Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari." (QS. An-Naml: 18).


Kisah 2

Suatu ketika, Nabi Sulaiman mengajak seekor semut berdialog tentang rizki yang Allah Ar-Razzaq berikan. Beliau bertanya pada semut itu.

“Wahai semut,” seru Nabi dengan senyum. “Berapa banyak rizki yang kau dapat?” tanya Nabi dengan santun.

Semut menjawab, “Aku diberikan oleh Allah Ta’ala setara satu gandum dalam satu tahun.”
Kemudian Nabi Sulaiman tersenyum, beliau meminta izin semut itu untukmembawanya ke istana dan memberikan satu butir gandum. Semutpun setuju pada sang khalifah, ia tinggal di sebuah kotak seperti toples, ia bersama Nabi di istana Nabi.
Setahun kemudian, Nabi menemui semut itu. Nabi terkejut karena gandum untuk semut hanya dimakan setengah. Nabi bertanya pada semut dengan heran.

“Wahai semut, mengapa tidak kau habiskan gandum itu?”
Dengan penuh hormat semut menjawab, “Wahai Nabiyullah, aku menghabiskannya setengah saja karena sungguh aku khawatir engkau melupakanku di tahun berikutnya. Maka aku sisakan untuk makananku untuk setahun ke depan. Sedangkan Allah Ta’ala tak pernah lupa akan hamba-hambaNya, setiap tahun aku selalu diberikanNya cukup.”


Hikmah

Dari kedua cerita di atas, bisa dipetik pelajaran. Nabi Sulaiman adalah seorang pemimpin, dan semut-semut itu adalah rakyat kecil. Lihatlah bagaimana Nabi Sulaiman dengan bijaksananya menghentikan perjalanan karena mendengar dari kejauhan seekor semut menyeru pada teman-temannya untuk berlindung agar tak terinjak.

Ini adalah bagaimana seorang pemimpin bisa mendengar apa yang diinginkan oleh rakyatnya meskipun mereka berada jauh dari pemimpin itu. Bagaimana seorang pemimpin bisa mengambil kebijakan dan meyakinkan kepada penerima kebijakan bahwa kebijakan itu baik. Di mana pemimpin mengedepankan hati nurani dan kebenaran hakiki dalam mengambil keputusan.

Dan bagaimana seorang pemimpin mau mengunjungi, mengajak rakyatnya untuk berdialog, bertanya apa yang mereka butuhkan, kemudian berikan apa yang diinginkan itu. Dan tentu saja tidak melupakan begitu saja setelah sekian lamanya.
Para Nabi menjadi pemimpin umat adalah karena dipilih oleh Allah Ta’ala. Mereka diberikan amanah pada pundak mereka. Pun setiap dari kita, adalah pemimpin yang dipilih oleh Allah Ta’ala untuk menjalankan amanah kehidupan.

Semoga, setiap dari kita, yang diamanahi untuk menjalankan sebuah organisasi baik kecil maupun besar, baik atasan maupun bawahan, baik pemimpin maupun anak buah, bisa menjalankannya dengan baik dan berlandas pada hukum tertinggi, yakni hukum Allah Ta’ala. Bagi kita yang memutuskan untuk berkontribusi, semoga tahu dan mampu memberikan kontribusi yang tepat seperti yang diinginkan oleh yang kita layani.

Untuk para pengurus Himpunan Mahasiswa Manajemen Pendidikan UNJ masa bakti 2014-2015, selamat untuk kita, dan berhati-hatilah dalam menjalankan amanah. Berharap kita mampu memikul amanah seperti seorang sahabat Rasulullah yang diamanahkan untuk masuk ke sarang musuh yang paling ditakutinya, dan diminta untuk kembali dalam keadaan hidup lalu melaporkan apa yang terjadi. Akan mudah baginya jika diperintahkan untuk menebas leher sang musuh, matipun tak apa di tempat itu, tapi amanah terberatnya adalah ia harus tetap hidup! Semoga kita mampu, meski berat terasa, tapi tenanglah. “Pahalamu setara dengan kepayahanmu.” Begitu Rasulullah menenangkan. Jika berat memikulnya, berharap Allah akan memberi pahala yang berat pula.

Untuk Achmad Faisal, jadilah seperti Nabi Sulaiman dalam memimpin organisasi ini. Kami, adalah pembantumu, dan engkau adalah kepala pelayan bagi warga Manajemen Pendidikan.


Sepenuh Cinta,
Ikvinia Nur Fatimah
(Staff Medikomfo Media Center)

You Might Also Like

0 comments

Bagaimana Tampilan Website Terbaru HIMA MP?

Follow by Email

Total Pengunjung