Ujian Nasional dan Kurikulum 2013

9:36 PM




Dunia pendidikan di Indonesia sedang ramai membicarakan isu-isu pendidikan yang muncul. Ada yang sebenarnya adalah isu lama, ada juga isu baru yang ramai bermunculan. Namun ada dua isu besar yang sedang mendominasi perdebatan dan perbincangan diantara kalangan pendidikan, yaitu Ujian Nasional dan Kurikulum 2013.

Seluruh elemen UNJ pun tak ketinggalan untuk mengadakan berbagai kajian dan diskusi mengenai dua isu pendidikan Indonesia ini. Seminggu yang lalu, Hima Manajemen Pendidikan oleh departemen pendidikannya mengadakan kajian terkait Ujian Nasional. Lalu baru baru ini, BEM FIP UNJ mengadakan pra-wisata akbar UNJ yang berisi kajian mengenai Ujian Nasional dan Kurikulum 2013 sebagai langkah awal untuk kegiatan aksi 2 Mei nanti dalam rangka memperingati hari pendidikan nasional. Berbagai pendapat tentunya bermunculan. Pro, kontra, solusi, alasan dan sebagainya bermunculan dalam diskusi yang ada. Namun dari semua hal yang ada, kita dapat mengambil beberapa poin yang mungkin dapat mewakili seluruh diskusi.

1. Ujian Nasional
Hal yang satu ini pasti tidak asing ditelinga kita. Ya tentu saja, ujian yang katanya menjadi momok terbesar untuk siswa sekolah ini terus bergulir, walaupun teriakan atas penolakannya sudah digaungkan diseluruh Indonesia. Namun kementrian pendidikan seakan tuli, atau mungkin tidak peduli dengan seluruh aspirasi rakyat yang peduli akan pendidikan? Beribu alasan untuk menolak ujian nasional, namun tak satupun aspirasi tersampaikan. Demokrasi yang sempurna. Pak menteri beralasan ada rasionalitas dibalik pelaksanaan UN, jadi kita jangan asal menggugat. Seolah-olah rasionalitas hanyalah milik kementrian dan rakyat tidak tahu apa-apa. Mari kita bahas sedikit alasan mengapa ujian nasional perlu dipertimbangkan kembali.

Apa sih makna pendidikan yang sebenarnya? Apakah pendidikan adalah sebuah nilai tertulis? Apakah semuanya hanya tentang secarik ijazah? Ataukah kognisi mendominasi keseluruhan? Secara sederhana, pendidikan adalah usaha yang dilakukan agar seorang peserta didik mampu hidup dengan baik dilingkungan masyarakat. Pertanyaannya, apakah seorang pelukis harus mengerti logaritma dan trigonometri untuk dapat hidup dimasyarakat sebagai pelukis? Apakah seorang penyanyi harus mengerti hukum coulomb dan gaya elektromagnetis untuk dapat bernyanyi? Jika manusia diciptakan berbeda, dengan potensi yang bermacam-macam, untuk apakah sebenarnya eksistensi dari ujian standarisasi?? Bangsa ini memang butuh generasi penerus yang cemerlang, namun pemerintah harus berhenti menganggap kecemerlangan itu hanyalah masalah kognisi semata. Atau mungkin pemerintah harus belajar psikologi terlebih dulu?? Mungkin saja.

Dasar hukum UN ada pada PP no 19 tahun 2005, yang lucunya bisa melangkahi UU Sisdiknas no 20 tahun 2003. Karena secara hirarki, tentunya PP tidak boleh bertentangan dengan UU. Dalam UU sisdiknas pasal 58 tentang evaluasi pendidikan, bahwa evaluasi dilaksanakan oleh pendidik, bukan pemerintah. Mengapa demikian? Karena yang terlibat langsung dalam proses pendidikan adalah guru, maka dari itulah guru yang berhak menentukan kelulusan murid, dari segi kognitif, afektif dan psikomotoriknya. Namun ada banyak pihak yang beranggapan bahwa UN ada atas dasar ketidakpercayaan pemerintah pada penilaian guru yang secara kualitas masih sangat kurang. Kalau benar begitu adanya, kenapa tidak meningkatkan kualitas guru? Dana untuk UN dari tahun ke tahun mungkin akan cukup untuk upaya peningkatan kualitas guru.

2. Kurikulum 2013

Banyak kontroversi. Banyak penolakan. Banyak perubahan. Banyak pula makan biaya. Ya, itulah kurikulum baru 2013. Sungguh sebuah isu fenomenal dibidang pendidikan. Mengapa? Jelas, kurikulum adalah "bahan dasar" pendidikan. Seluruh konsep pendidikan, dari awal hingga akhir, tercantum dalam draft "keramat" ini. Sebenarnya tidak keramat sih, toh sudah lebih dari 10 kali kurikulum kita bergonta-ganti. Aneh? Tentu. Kurikulum itu rencana jangka panjang. Jadi kalo belom 15 tahun udah diganti, rasanya ada yang ganjil.
Draft uji publik telah diluncurkan, banyak perubahan telah dilakukan, namun rasanya masih ada hal yang kurang pas. Terlepas dari prasangka masyarakat akan kurikulum berbasis proyek ini, lebih bijak rasanya jika kita melihat dari skala prioritas pendidikan Indonesia.

Jika kita menjabarkan permasalahan pendidikan yang ada di Indonesia, tentunya akan menjadi pembahasan yang sangat panjang. Namun ada satu "benang" yang jika ditarik dapat mengurangi kusutnya pendidikan Indonesia. Ya, benang emas itu adalah guru. Kualitas guru yang tinggi menjadi harga mati untuk mewujudkan pendidikan Indonesia yang berhasil. Mengutip pernyataan pak Mendikbud M. Nuh yang mengatakan bahwa kurikulum bukanlah sesuatu yang sakral, jadi boleh saja diubah. Pertanyaannya, yang bilang tidak boleh itu siapa, pak? Kita hanya merasa bahwa urgensi perubahan kurikulum tidaklah terlalu besar. Yang menjadi sasaran utama dari kemendikbud seharusnya adalah guru. Apa gunanya konsep, sarpras, buku dan sebagainya jika yang menjalankannya belum mumpuni? Apa arti benda mati, tanpa ada seseorang yang menggunakannya? Inti permasalahannya sebenarnya ada pada hal itu, skala prioritas.

Demikian pembahasan yang diambil dari dua diskusi pendidikan di FIP. Semoga pendidikan Indonesia semakin jaya. Hidup Mahasiswa, Hidup Pendidikan Indonesia! Jayalah selalu Indonesiaku!

You Might Also Like

0 comments

Bagaimana Tampilan Website Terbaru HIMA MP?

Follow by Email

Total Pengunjung